Behind the Sun - Movie Reviews - Rotten Tomatoes

Behind the Sun Reviews

Page 1 of 8
½ September 8, 2016
Not quite sure what all the fuss is about...
½ May 25, 2013
Sparse and poignant telling of a blood feud in 1910's Brazil. Great photography and solid acting.
Super Reviewer
October 22, 2012
Tragic, beautiful, poignant, compelling. A well told story not easily forgotten. This was one of the most moving films I've seen in a long time. It's golden colors seem to breathe the very heat of the desert itself, and the cinematography is breathtaking. The actors do a brilliant job with their performances, a fine example of perfect casting . I don't see this is as a story about revenge, or even hatred, but more about one's willingness, or unwillingness, to blindly accept a ritual based on an idea which is not valid. Excellent film!
July 25, 2012
Eu gosto muito do Walter Salles e esse filme é simplesmente maravilhoso.
April 25, 2012
This film was very well made. It actually makes you dizzy from the plot to the ending and swings you along for the tramatic ride. deserves the 5 stars I gave it!
March 5, 2012
Very Brazilian-esque, heavy with their traditions and off center stories that often feel fantasy like.
January 16, 2012
I really liked the photography and the dialogues in this movie. A long story of revanche is ended by the sacrifice of a young boy. Adoro o cinema brasileiro com filmes de histórias dos reais onde o mais importante é o que acotece na pessoa, as mudanças.
December 10, 2011
this sounds really interesting, good story and well presented.
October 27, 2011
depressing but awesome. deserves the Little Golden Lion award at the 2001 Venice Film Festival.
June 28, 2011
Great Brazilian film, but why must they all in tragedy. Jeeze...
½ June 28, 2011
The cinematography in this movie is one of the best I have ever seen... Its mind boggling to me how serious foreign films take the art of film making, Behind the Sun is a movie of revenge and ultimately following your own path and NOT the one that is laid for you...
½ June 18, 2011
on a foreign movie watching spree--spanish, argentinean, french, and this final brazilian movie today topped them all.
June 18, 2011
Simple yet quite depressing.
½ March 21, 2011
Dir : Walter Salles
Cast : Rodrigo Santoro, Ravi Ramos Lacerda, Jose Dumont, Luis Carlos Vancocelos, Flavia Marco Antonio & Wagner Moura

Rodrigo Santoro mungkin menjadi satu-satunya aktor asal Brazil yang sukses merintis karier di Amerika dengan membintangi banyak film-film komersil Hollywood dan cukup sukses, sebut saja Charlieâ(TM)s Angel, Love Actually, 300, serial Tv Lost, dan film terbarunya bersama Ewan McGregor dan Jim Carrey, I Love You Phillip Morris. Abril Despedacdo atau dalam rilis bahasa Inggris berjudul Behind the Sun, film produksi tahun 2001 dari sutradara Walter Salles ini adalah yang membuka peluang untuk aktor yang juga membintangi sebuah produk iklan parfum bersama Nicole Kidman. Behind the Sun mendapatkan perhatian publik dunia (Amerika) saat dinominasikan oleh perkumpulan jurnalis internasional Hollywood (HFPA) sebagai salah satu film berbahasa asing terbaik dalam Golden Globe tahun 2002.

Film ini diadaptasi bebas dari novel karya penulis asal Albania, Ismael Kadare yang berjudul April Broken, dengan mengambil setting Brazil utara tahun 1910. Bercerita tentang permusuhan yang telah terjadi bertahun-tahun diantara dua keluarga, di atas sebuah ladang tebu yang selalu tersiram panas matahari dan gersang. Permusuhan dilambangkan atas keterjebakan mereka dengan pola pikir yang terbentuk sekian lama dari sepuh keluarga yang membiarkan pembunuhan demi pembunuhan terjadi atas nama kehormatan keluarga.

Saat kakak laki-lakinya Inacio terbunuh, Tonho (Rodrigo Santoro) harus memenuhi perintah ayahnya (Jose Dumont) untuk membangun keberaniannya membalaskan dendam keluarga demi nama baik keluarganya. Setelah melewati masa berkabung yang telah ditentukan, anggota keluarga masing-masing yang bermusuhan akan berusaha untuk membunuh salah satu dari anggota keluarga musuhnya, jika kemudian gagal, maka akan menunggu masa berkabung selanjutnya untuk bisa kembali membunuh, Tonho dan adiknya Pacu (Ravi Ramos Lacerda) setiap kali harus berhadapan dengan maut dan tanpa keberanian untuk mengungkapkan keberatan pada ayah mereka, karena mereka akan dianggap menghina kehormatan keluarga.

Kehidupan miskin yang mereka hadapi sebagai petani tebu tidak bisa mempengaruhi â~kehormatanâ(TM) yang terlalu berlebihan selalu diagung-agungkan oleh sang Ayah. Tonho dan Pacu seperti ingin pergi jauh dari ayahnya, mereka bosan dengan aktivitas setiap hari hanya memutar alat pengompres tebu yang ditarik dengan sapi, tidak ada apa-apa disekitar mereka selain hanya kehidupan berat dan dendam yang semaki membuat hidup tidak berjalan kemana-mana. Pertemuan dengan seorang gadis yang menjual atraksi sirkus bernama Clara (Flavia Marco Antonio) cukup memberikan hiburan pada hidup mereka yang terjebak kemiskinan dan terus menerus dikejar ketakutan


Sebuah pemikiran tentang kehormatan yang tentu saja sangat keliru menjadi inti film ini, seperti tidak ada peluang untuk mencari cara lain untuk menyelesaikan masalah yang terjadi atau memang karena luka yang terlalu lama dan bertumpuk membuat hal itu menjadi sesuatu yang legal dilakukan.


Sebuah hujan besar yang sangat jarang sekali terjadi di sana menjadi sebuah metafora pada dendam demi dendam yang terjadi, apakah hujan akan memberikan sebuah â~penyegaranâ(TM) bagi mereka untuk bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik. Tonho berjuang dengan dilema tersebut, bagaimana dia bisa tetap menghargai keluarganya tanpa membunuh, bagaimana dia bisa tidak terbunuh atau pergi dari keluarganya tanpa meninggalkan aib atas kehormatan keluarganya.

Inilah film yang jelas-jelas mempertanyakan bagaimana nurani manusia berkembang menghadapi segala masalahnya, membiarkan sesuatu yang dipercaya menguasainya, atau dengan egois membiarkan semua terjadi hanya demi sebuah kehormatan yang sebenarnya juga diragukan, atau justru berusaha menunjukkan bahwa nurani, hati, dan pikiran bisa dikendalikan pada hal-hal sebenarnya baik untuk dilakukan, dan hal yang terakhir inilah yang dipilih oleh Tonho untuk diperjuangkan.

Sebuah keindahan âsurealâ? dihadirkan oleh Walter Salles dengan begitu gersang, panas, perih, pahit dan berkarat adalah bentuk rasa jika kita ingin memberi arti pada Behind the Sun secara keseluruhan, membaurkan warna-warna indah Brazil yang panas dan gersang dengan kegelapan dendam yang berkarat dalam hidup mereka tanpa ada peluang untuk bisa menemukan âairâ? dalam arti sebuah penyelesaian yang baik supaya hidup bisa lebih benar-benar indah untuk dinikmati.

Dengan cinematografi yang begitu sempurna membiarkan penonton tersiksa dengan keindahan sekaligus kegersangan Brazil, cerita adaptasi yang menarik, menegangkan dan rapi, akting dari para pemeran yang sempurna (terutama Jose Dumont yang berperan sebagai ayah Tonho) dan tentu saja penyutradaraan yang baik oleh Salles menjadikan film ini dinobatkan oleh banyak kritikus film internasional sebagai salah satu film terbaik Brazil yang pernah dibuat (bersanding dengan City of God, Central Station dan 4 Days in September).

Behind the Sun dinominasikan film berbahasa asing terbaik BAFTA dan Golden Globe 2002, meraih Little Golden Lion Venice Film Festival 2002, Silver Daisy Awards Brazil 2002, penghargaan sebagai sutradara terbaik untuk Salles dari Havana Film Festival 2002 dan aktor pendukung terbaik untuk Rodrigo Santoro dari Premio Qualidade Brazil 2002.

Berhasil memikat publik dunia dengan Central Station dengan 2 nominasi Oscar tahun 1999, Walter Salles kembali membuktikan kepiawaiannya dalam mengarap film. Meski kali ini tidak menempus perhelatan tertinggi Hollywood tersebut, tetapi cukup memperlihatkan Salles mampu mempertahankan kualitasnya, dan dari beberapaa kritikus film, Behind the Sun dianggap lebih sempurna dari Central Station, Oscar tidak selalu menjadi jaminan terbaik atau tidak.
January 1, 2011
my brazilian very best movie!
November 7, 2010
clearly in my top 20
October 25, 2010
Set in rural Brazil at the beginning of the 20th century, this is a story of an long bloody feud between two families for a piece of land. The cinematography is beautiful, with every shot carefully chosen and edited, setting the perfect ambience for a very poetical simple story. Violence is always cyclical and never ending destroying everyone and everything around it. Even the land has dried off as these families refuse to change their ways. Another excellent piece of Brazilian cinema from the Director of 'Central Station' and 'The Motorcycle Diaries.'
October 23, 2010
simply a MASTERPIECE !!
September 23, 2010
Eu gosto muito do Walter Salles e esse filme é simplesmente maravilhoso.
½ July 25, 2010
A sumptuously filmed parable on the futility of violence that manages to get away with its shortfalls almost solely on the basis of its cinematography.
Page 1 of 8