Pixote (Pixote: A Lei do Mais Fraco) - Movie Reviews - Rotten Tomatoes

Pixote (Pixote: A Lei do Mais Fraco) Reviews

Page 1 of 7
½ October 13, 2014
"Pixote: A Lei do Mais Fraco" merece o seu estatuto de filme basilar no cinema brasileiro com um fundamento de retrato social, mas a sua narrativa à deriva (tal como o próprio protagonista Pixote) deixa-nos algo alineados em alguns momentos das suas duas horas de duração. A abordagem semi-documental de Hector Babenco é contudo muito mais sensível e individualizada do que a dos maiores dos realizadores, que muitas vezes tratam a delinquência de menores como um fenómeno estatístico. Toda a direcção de actores jovens é também totalmente convincente.
August 26, 2014
Heartbreaking hard hitting dose of realism from Brazil. The final scene reminds us that these are children we are watching and it really drills home the suffering that the kids endure and survive in the only way they can.
June 1, 2014
One of the most raw films Ive ever seen, life for the children of Brazilian slums, in many ways this movie hits harder than City of God. The real life story of the child actor is a heart breaking tragedy. Un pelicula impactante sobre la pobresa de niños en Brasil, algo que se queda en tu memoria. La historia real del protagonista es una tragedia
½ March 9, 2014
This film takes a hard, lingering look at the brutal horrors visited on and enacted by a group of poor kid criminals in Brazil. This is one of the most deeply disturbing movie experiences I've ever had. And yet, it almost felt necessary to continue to watch, to at the very least acknowledge the sorts of situations depicted here as real events that happen to real people. Masterfully made.
February 1, 2014
Heart-breakingly wonderful.
April 12, 2013
O melhor filme brasileiro de todos os tempos! O mais repugnante, nojento, imperdoável e cruel filme que este país já lançou! Uma narrativa sem iguais, com cenas memoráveis, que fazem parte da história do cinema mundial!
"Pixote: a lei do mais fraco" é tudo isto! Uma viagem alucinante na visão de um garoto de dez anos chamado Pixote. Uma jornada absolutamente maravilhosa, nunca feita antes nem depois com o mesmo sucesso por qualquer outro filme brasileiro. Uma obra que merece ser vista e revista várias vezes.
Atuações impecáveis; roteiro muito bem escrito e planejado; uma direção de tirar o fôlego e uma fotografia muitíssimo interessante. Não vou falar mais absolutamente nada sobre esta obra de arte que deveria ser apreciada por todos os brasileiros e ser colocada como motivo de orgulho para o cinema do nosso povo. E em pensar que tem gente que diz que "Tropa de Elite 2" é o melhor filme brasileiro já lançado...
April 3, 2013
The most horrific way to spend your time in a cinema, but also an immensely powerful, unflinching study of crime and its influence on youth.
March 14, 2013
Awesome, heartbreaking tale of Slum kids destined for life of crime, prison and death.
January 13, 2013
My anthro professor showed us Pixote in class one day. We were left completely stunned. Watching it felt like a big slap in the face, a wake-up call. Unforgettable scenes and characters. In the memory of Fernando Ramos Da Silva. Sorry, kid.
½ September 26, 2012
Gritty yet beautiful tale of the lives of unloved street kids and hustlers in Brazil. Relentless in its realism and highly recommended.
½ May 28, 2012
Pretty shocking and alarming documentary of a young boy (Fernando Ramos De Silva) who is abandoned by his parents and ends up in a really rough juvenile detention centre. Within this compound, he strives to get out in which those running the facility torture and even kill his young prison mates if they step out of line in any sort. Befriending obviously the wrong people, he and several others succeed at escaping the centre, only getting into the life of drugs, prostitution, and sadly, murder. Painful and effective examination of kid with no emotions whose future has little to no hope. Seriously graphic at times, especially several of the sequences in which the kid ends killing and or seriously hurting others within the film. This film really works, but word of caution: it may be too much for some people.
December 23, 2011
Le pendant brà (C)silien de "Moi, Christiane F., 13 ans..." ; glauquissime, mais rà (C)ussi.
Super Reviewer
November 12, 2011
A not so pleasant peek into the slums of latin america. Few films achieve such heartwrenching misery and crudeness. No MTV videoclip style of cinematography and editing, just rough reality and real poor kids making a few bucks while pouring their hearts and minds in front of a camera.
½ August 27, 2011
A young street urchin who after escaping from a brutal reform school with a bunch of young hoodlums enter a life of pretty crime involving robbery, drug dealing and prostitution in the streets of Brazil. This film predates "City of God" by more than 20 years. Although it has less violence and no flashy editing, it is somewhat more harrowing and disturbing even after all these years. The lead child actor in the film, Fernando Ramos da Silva, who plays the title character is a real-life street criminal whose brief fame with this film was shortlived due to his illiteracy and turned back into a life of crime, ending in a police shoot-out which killed him at age 19. Knowing this fact lends a bit of poignancy to certain scenes. It's often tough to watch but still a great film no less.
½ June 2, 2011
Director & Screenplay: Hector Babenco
Based on Book: Jose Louzeiro
Cast:
Fernando Ramos da Silva â" Pixote
Jorge Juliao â" Lilica
Gilberto Moura â" Ditto
Edilson Lino â" Chico
Zenildo Oliveira â" Fumaca
Marilia Pera â" Sueli
Elke Maravilha â" Debora
Tony Tornado â" Cristal
Jordel Filho - Sapato

Pixote menjadi wakil ribuan anak jalanan Brasil (dan bahkan mungkin dunia) yang menjadi korban dari segala keterpurukan kehidupan masyarakat Brasil. Korban dari orang tua yang tanpa tanggung jawab penuh memutuskan memiliki anak. Korban dari kemiskinan yang menguasai hampir semua taraf hidup masyarakat kelas bawah. Korban dari ketidakpedulian Pemerintah memberikan kesejahteraan untuk penduduknya. Korban dari rangkuman segala ketidakberdayaan dan ketidakpedulian semua pihak pada anak-anak yang lahir tanpa orang tua yang jelas, tanpa taraf hidup yang baik dan tanpa pendidikan yang memadai. Bahkan instansi yang disediakan untuk mengembalikan anak-anak jalanan pada masyarakat dengan memberikan bekal pendidikan justru menjadi tempat penyiksaan dan perangkap yang hanya menguntungkan para sipir dan polisi kotor.


Pixote dibuka dengan sebuah dokumenter pendek tentang bagaimana kondisi kehidupan masyarakat miskin di Sao Paulo, yang kemudian berakhir dengan profile Fernando Ramoas da Silva yang memerankan Pixote. Fernando adalah anak asli kawasan kumuh Sao Paulo. Pixote kemudian membawa penontonnya pada sebuah lembaga permasyarakatan khusus anak-anak dibawah 18 tahun yang memang sengaja didirikan untuk membentuk pribadi-pribadi anak-anak jalanan dengan bekal pendidikan. Melalui sebuah operasi, Pixote tertangkap dan digiring untuk menjadi penghuni lapas khusus ini. Bersama Pixote tertangkap juga Lilica (Jorge Juliao) seorang pemuda berusia 17 thn yang merasa terjebak dalam tubuh lelaki, ada juga Fumaca (Zenildo Oliveira), Dito (Gilberto Moura) dan Chico (Edilson Nino) yang kemudian menjadi karakter-karakter central dalam kisah hidup Pixote selanjutnya.

Tetapi bukan â~perbaikanâ(TM) yang mereka terima dalam lapas ini. Sapato (Jordel Filho) yang menjadi kepala para sipir Lapas begitu semena-mena, bertindak kasar dan keras membentuk anak-anak tersebut menjadi pribadi-pribadi yang penuh kebencian. Mereka dituduh melakukan kesalahan-kesalahan dan tindak kriminal yang tidak pernah mereka lakukan. Bahkan entah untuk alasan yang tidak begitu jelas beberapa anak termasuk Pixote dipaksa untuk menjadi tersangka sebuah kasus kejahatan dan beberapa diantara mereka bahkan ditembak mati tanpa alasan. Termasuk yang dialami Fumaca yang cukup dekat dengan Pixote. Fumaca ditemukan di sebuah tempat pembuangan sampah dari keadaan sangat menyedihkan dengan luka disekujur tubuhnya. Untuk menutupi tindak kejahatan yang dilakukan oleh pada Polisi kotor ini, pihak pengurus Lapas membuat cerita bohong tentang perkelahian diantara para penghuni lapas dan mengorbankan salah satu penghuni lapas sebagai tersangka yang kemudian berakhir dengan kematiannya.



Atas dasar kemarahan yang memuncak Lilica mengerahkan semua anak-anak untuk melakukan pembakaran terhadap fasilitas Lapas tersebut. Hal ini memberikan kesempatan mereka untuk bisa kabur dari lapas tersebut. Bersama Lilica, Pixote, Chico dan Dito memulai hidup baru mereka dijalanan Sao Paulo dan bercita-cita untuk bisa segera ke Copacabana, Rio de Janeiro. Hidup dikota besar tidaklah mudah bagi mereka. Untuk menyambung hidup mereka berkelompok menjambret para pejalan kaki dan terlihat banyak uang. Sampai kemudian mereka bertemu dengan Cristal (Tony Tornado) yang mempercayai mereka untuk menjadi penyalur kokaiin dari Sao Paulo ke Rio de Janeiro. Petualangan mereka menjual obat bius berakhir dengan kisah menarik dengan Sueli (Marilia Pera) seorang pelacur tua di Rio de Janeiro, yang kemudian justru mengubah dan menghancurkan persahabatan mereka untuk selamanya.

Babenco dengan gamblang mempersembahkan sebuah kisah dokudrama yang jujur dan apa adanya. Tanpa perlu dramatisasi yang berlebihan dengan realita nyata dihadirkan mendekati keadaan yang sedang dihadapi oleh Brasil pada saat itu dan bahkan hingga saat ini. Kejujuran yang dihadirkan film ini menguliti Pemerintah Brasil saat rilis tahun 1981, karena tanpa basa basi sebuah lembaga permasyarakatan untuk anak-anak terlantar dan bermasalah justru semakin memberi masalah berat bagi anak-anak itu sendiri. Sistem dan program yang diharapkan berjalan dengan baik justru sebaliknya. Sumberdaya manusia yang dipercaya untuk mengelola tempat â~perbaikanâ(TM) tersebut justru menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan mereka untuk kepentingan sendiri. Bahkan hal ini menjadi endemik karena hingga sekarang permasalahan ini masih menjadi momok di Brasil (bisa dilihat film Quero (2007) yang juga berkisah hampir sama dengan film ini).

Detail paling menyedihkan adalah bahwa film ini telah dibuat hampir dua puluh lima tahun yang lalu. Film ini menjadi semacam catatan sejarah/dokumen dunia untuk kemiskinan dan kebejatan dan pahitnya lagi kondisi yang sama masih menjadi masalah yang sama sampai sekarang, mungkin hanya berubah sedikit saja. Satu hal yang cukup menarik dari film ini adalah bagaimana wajah Pixote seperti mengalami perubahan menjadi semakin âtuaâ? dan âtuaâ? menuju ending film. Entah bermaksud untuk memberikan pengertian bahwa Pixote dipaksa dewasa karena tinggal dijalanan menghadapi beratnya hidup.


Banyak sekali adegan brutal dan menyentuh yang dihadirkan Pixote. Bahkan terkadang terasa begitu miris dan pahit. Seperti saat Lilica dan Pixote menyanyikan sebuah lagu sendu tentang cita-cita sambil memandang kearah Copacabana. Atau ketika Pixote yang begitu mendambakan seorang ibu dibiarkan oleh Sueli menyedot putingnya. Tidak ada tendensi seksual, yang ada hanya seorang bocah yang haus akan perhatian dan rindu akan kasih sayang seorang ibu. Sungguh menyedihkan!



Yang menjadikan film ini semakin terasa sangat nyata adalah bagian akhir film yang dibuat tanpa ada embel-embel sad ending atau happy ending. Film dibiarkan berjalan menuju akhirnya sendiri mengikuti kemana kisah hidup Pixote akan membawanya. Tidak ada yang diselesaikan dalam film ini karena hidup terus berjalan. Pixote harus terus menemui puing demi puing jalan hidupnya tanpa bisa banyak kompromi. Bagian kisah film ini hanya menjadi sekelumit kisah hidup Pixote yang direkam dan Pixote terus berjalan menapaki jalan mencari kisah-kisah hidup selanjutnya.

Delapan tahun setelah film ini rilis, pemeran Pixote, Fernando Ramos da Silva ditemukan tewas. Menjadi sebuah pembuktian bahwa kerasnya hidup yang dijalani oleh Fernando yang memang adalah anak jalanan asli Sao Paulo. Kisah âPixoteâ? berakhir pahit dengan kematiannya. Sebuah film dari sutradara Jose Joffily dipersembahkan utk kematian Pixote produksi 1997 dengan judul Who Killed Pixote.

Pixote dinominasikan film berbahasa asing terbaik Golden Globe 1982. Menerima penghargaan film terbaik dari Boston Society of Film Critics Awards, Los Angeles Film Critics Association Awards dan New York Film Critics Circle Awards.
Super Reviewer
½ May 7, 2011
The cold reality of homeless children, that do everything to survive in a cruel brazilian society. A shocking film, a social critic cinematographic with great actors. Better that Fernando Meirelles's City of God. Fernando Ramos da Silva (1967-1987) and Jorge Juliano made a wonderful job, just like Babenco and the another actors.
March 12, 2011
Pixote is a devastating portrait of the lives that many children of Brazil have to experience. One hell of a film. A film that reminds me of De Sica's neo-realist masterpieces Shoeshine and The Bicycle Thief in how director Hector Babenco used real children in the lead roles instead of actors, with the protagonist reminding me in some ways of Jean-Pierre Là (C)aud's character in François Truffaut's The 400 Blows. It also reminds me of Luis Bunuel's Los Olvidados in the way it looks at how society mistreats these poor children. One of the best films to ever come out of Brazil. 10/10
½ January 10, 2011
Masterpiece by hector babenco's Very sad story abt a Brazilian boy this is so real Brilliant movie slow paced but dat doen't matter in the end
January 10, 2011
amazing powewrful drama/documentary sytle stuff
Page 1 of 7